Hari Ibu atau Hari Perempuan
Sabtu kemarin, seluruh negeri ini merayakan hari ibu. Banyak cara untuk memperingati dan mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu. Mulai dari upacara, penyuntingan bunga, aneka lomba masak dan busana, bahkan ada yang membebaskan para ibu dari kegiatan domestik rumah tangga. Ada yang bilang, hari ibu kita sudah tercemar, terpolusi, terkontaminasi dengan Mother's Day yang diperingati di banyak negara. Ah, lagi-lagi sudut pandang, kaca mata atau teropong yang digunakan memang beda. Hasilnya pun pasti beda.
Namun tidak ada yang salah, jika perbedaan itu muncul. Dan, memang tidak ada yang salah dengan aneka ungkapan dan perayaan seperti itu. Tidak ada salahnya pula mengucapkan terima kasih atas jasa dan jerih payah ibu. Tetapi, jika merunut sejarah terjadinya Hari Ibu di Indonesia, sebenarnya bukan itu misi sejatinya. Misi sejati peringatan Hari Ibu adalah mengenang perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan pembangunan bangsa.
Saat itu kaum perempuan sudah memikirkan tentang persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai isu kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa. Yang lebih hebat, pemikiran dan aneka upaya penting itu terjadi jauh sebelum kemerdekaan negeri ini diraih dan jauh sebelum konsep-konsep adil jender dan feminisme berkembang di negeri ini.
Suatu ketika, saya diingatkan sahabat saya. Katanya, pemakaian kata "ibu" lebih terbatas dari pada "perempuan" secara umum. Ini pulalah yang menjadi salah satu alasan peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, yang mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno.
Kita di Indonesia tidak itu. Jika kita ingin dianggap jelas dalam berpikir, seharusnya mengembalikan hari penting itu kepada makna sejatinya, yakni mengenang perjuangan dan keterlibatan perempuan dalam usaha perbaikan nasib bangsa yang belum lepas dari berbagai kemalangan.
Ah, saya jadi bingung mau mengucapkan apa; Selamat Hari Ibu atau Hari Perempuan? Begini saja, Selamat Hari Ibu. Selamat berjuang, kaum perempuan!

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda