Jumat, 04 Januari 2008

Kiambang


 
Berkunjung ke desa - sebagai seorang bupati – merupakan separuh dari waktu pekerjaan saya. Sebab, desa-lah basis rakyat yang menantikan perubahan. Desa-lah pusat ekonomi. Desa-lah pusat pembangunan. Desa-lah pusat kebudayaan. Dan, dari desa-lah, sebenarnya, semua harus bermula. Itu artinya, jika saya tidak datang ke desa, tidak berkunjung ke desa, tidak berbicara dengan masyarakat desa, tidak memperhatikan pembangunan desa, atau dengan kata lain menafikan posisi penting desa, sebuah kekeliruan telah dilakukan.
Karena itu pulalah, mulai tahun 2006, saya memprioritaskan pembangunan Kabupaten Indragiri Hilir melalui Program Desa Mandiri. Program ini tidak hanya memberikan kewenangan kepada desa untuk mengelola dana pembangunan Rp. 250 juta dan dana ekonomi kerakyatan Rp. 50 juta, melainkan terbukanya ruang publik bagi masyarakat untuk ikut serta (berpartisipasi) secara paripurna dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pemeliharaan dan pengawasan kegiatan-kegiatan pembangunan yang dilaksanakan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dapat kita sebut, di Negeri Sri Gemilang akan terjadi sebuah perubahan dalam proses perencanaan pembangunan yang selama ini didominasi oleh peran pemerintah menjadi dominasi peran masyarakat yang berbuat bersama, berperan setara.
Kamis, 13 April 2006…
Entah yang keberapa kali saya bertamu ke desa. Sebelum ke tempat acara, saya beserta rombongan singgah sejenak di kediaman salah seorang tokoh agama Kabupaten Indragiri Hilir, yang tinggal di Pengalihan, Enok. Kyai H Abdul Muis namanya. Berbagai hal menjadi bahan pembicaraan ketika itu. Tapi, saya sempat terdiam ketika sang kyai mengatakan; “Kiambang sudah tidak ada lagi di sungai.”
Saya merenung sejenak, mencari jawab. Apa makna dari kalimat yang kelihatannya biasa saja, tapi menurut saya Sang Kyai mau mengatakan sesuatu. Mau menyampaikan pesan moral apa?
Kiambang tumbuhan air yang sejak dahulu, terutama bila musim hujan tiba, selalu memenuhi sungai-sungai di Indragiri Hilir. Banyak orang mengenal dan mengetahuinya. Bentuknya tidaklah terlalu besar dan hanya terapung di atas permukaan air, dengan akar-akarnya yang lembut menjuntai. Tumbuhan ini dapat dikatakan terabaikan begitu saja. Hanya satu-dua orang yang memanfaatkan sebagai bahan anyaman. Namun apabila kiambang-kiambang itu berkumpul (bertaut) perahu yang lalu akan kesulitan. Untuk melewatinya, satu persatu kiambang-kiambang itu harus disingkirkan, walau kemudian dia bertemu kembali. Sampai ada pepatah mengatakan “Perahu lalu kiambang bertaut.”
Pembelajaran dari alam memang memberikan pemaknaan yang indah. Di saat-saat seperti sekarang ini, dimana segenap kekuatan dan potensi Kabupaten Indragiri Hilir bergerak bersama untuk membangun, untuk mengangkat marwah negeri dari yang termiskin di Provinsi Riau, menjadi daerah yang dapat memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya, kita memerlukan kekompakan, kerjasama dan persatuan. Tidaklah dipersoalkan apa dan berapa besar kekuatan dan kemampuan masing-masing kita, yang paling dibutuhkan adalah kekuatan dan kemampuan sekecil apapun itu dapat disatukan dan dipadukan dalam satu ikatan menuju satu tujuan dalam satu arahan, untuk bergerak bersama, bertindak cepat membangun Negeri Sri Gemilang. Ini akan menjadi kekuatan yang maha dahsyat, seperti kiambang-kiambang kecil yang bertaut, menjadi hamparan yang luas.
Alam terkembang memang menjadi guru. Memberi ibarat hanya kepada orang-orang yang dapat memaknainya. Orang-orang tua kita sudah mengingatkan. Belajarlah kepada alam! 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda